News Event Video Search ▾ Archive

Plastik, si ‘Makanan Lezat’

Oleh Ananda Putri Permatasari

Belum lama ini, saya menyaksikan satu lagi kejutan menarik dalam hidup. Rasanya, di antara detik-detik dalam hari tersebut, ada satu kejutan yang paling saya ingat. Padahal, saya tengah berlibur ceria bersama teman-teman kampus. Tidak tanggung-tanggung, sehabis wisuda resmi di kampus kami langsung merayakan wisuda personal di puncak sebuah gunung di Jawa Barat. Segala kesan selama perjalanan terusik oleh pesan mendalam dari kejutan sederhana yang saya terima: mi rebus plastik.

Sebelum saya paparkan apa sebenarnya mi rebus plastik, bagaimana cara memasaknya, dan apa bedanya dengan mi rebus pada umumnya, izinkan saya cerita sedikit tentang momen pertama saya menjumpai mi rebus ajaib ini.

Setibanya di kaki gunung sebelum mendaki pada dini hari, saya perlu makan terlebih dahulu. Karena udara dingin menusuk terlalu dalam, spontan saya memesan mi rebus telur dengan harapan badan menghangat. Iseng-iseng, saya menengok ke dapur untuk bercengkerama dengan ibu pemilik warung barang sejenak. Seringkali, berbincang dengan penduduk asli itu menyenangkan. Ada cerminan lain, budaya lain, bahasa lain, semua yang serba lain yang akan saya saksikan. Benar saja, belum memulai topik pembicaraan, saya sudah keburu ternganga melihat mi rebus yang akan saya makan dimasak dengan cara yang super lain.

Sebungkus mi yang belum dibuka kemasannya, dicelupkan ke dalam air rebusan begitu saja! Tampaknya air rebusan sudah digunakan berkali-kali karena menyisakan rebusan telur sehingga agak kental. Beberapa menit kemudian, sang ibu memindahkan kemasan berisi mi rebus matang ke mangkuk, menggunting kemasannya perlahan, mengeluarkan isi dan bumbu instannya, lalu menuangkan beberapa sendok air rebusan kental sebagai kuah. Jadilah mi rebus sedap versi bumbu plastik.

Masih tercengang, saya membulatkan tekad untuk melahap habis mi tersebut agar ibu pemilik warung tidak tersinggung. Kalau saya berikan ke teman bisa saja, tapi dia yang akan keracunan. Pun, saya tidak punya ide mempercantik bahasa teguran untuk memberi tahu ibu pemilik warung.

Akhirnya, pukul tiga pagi saya makan mi rebus plastik. Apakah hal ini cukup mengejutkan? Saya sangat terkejut. Bagaimana mungkin kita memakan air rebusan plastik di dalam air mendidih, apalagi sudah digunakan berkali-kali? Selama ini, saya belajar salah satu hal penting bahwa plastik tidak boleh masuk ke dalam tubuh karena dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya, salah satunya kanker. Itulah mengapa kita tidak dianjurkan makan atau minum menggunakan alat makan yang terbuat dari plastik. Nah, apalagi makan dari air rebusan plastik!

Terlepas dari sedihnya mengetahui bahwa masih banyak saudara sebangsa yang belum memahami bahaya plastik yang dipanaskan, saya memutuskan sekali lagi berbagi mengenai apa saja sebenarnya bahaya plastik bila masuk ke dalam tubuh?

Plastik merupakan polimer hidrokarbon yang bahan dasarnya adalah minyak bumi. Dalam proses fabrikasinya, minyak bumi perlu diramu sehingga menjadi material bernama plastik yang sifatnya stabil dan tahan air sehingga mampu bertahan hingga bertahun-tahun, bahkan beradab-abad. BPA sebagai plastik yang paling sering digunakan sebagai kemasan makanan, mudah mengalami leaching atau menjadi lindi di dalam larutan pada suhu tinggi atau terpapar asam/basa (1). Itulah mengapa memakan air rebusan plastik adalah bencana bagi manusia, seperti yang sudah saya sebut sebelumnya.

Ramuan aditif yang dicampurkan ke dalam plastik hampir seluruhnya bahan berbahaya dan beracun (B3). Beberapa aditif yang paling berbahaya, populer dengan nama persistent organic pollutants (POPs), adalah sebagai berikut (2)

1. Polybrominated diphenil ethers (PBDE)
Zat kimia ini sering digunakan dalam membuat perangkat keras komputer, tekstil, dan busa. Kini, PDBE ditemukan dalam tubuh manusia dan spesies lainnya di manapun di seluruh dunial hampir 150 miliar metrik ton PDBE digunakan setiap tahunnya di seluruh dunia. Dampak kesehatan yang diakibatkan PDBE adalah gangguan reproduktif anak dan sistem syaraf. Di Uni Eropa, PDBE sudah dilarang. Bagaimana dengan di Indonesia, ada yang tahu?

2. Phthalates (dieja thalates)
Phthalates banyak sekali ditemukan di dalam jenis plastik seperti soft polyvinyl chloride atau PVC, plastik kemasan, mainan anak, dan alat kesehatan yang terbuat dari plastik. Bahaya besar dari phthalates adalah gangguan sistem endokrin, abnormalitas reproduksi, gangguan liver, karsinogenik atau menyebabkan kanker, serta penurunan kesuburan reproduksi manusia. Sudah diteliti bahwa phthalates menurunkan jumlah produksi sperma. Lengkap sudah bencana dari sebuah plastik saja.

3. Bisphenol-A (BPA)
Komposisi utama dari plastik polikarbonat adalah BPA, umumnya digunakan dalam pembuatan botol minuman kemasan hingga kemasan pasta gigi. Kandungan BPA di dalam tubuh manusia sudah banyak ditemukan, walaupun belum banyak disimpulkan kaitan kandungan BPA dengan risiko kesehatan. Beberapa studi yang menemukan dampak kesehatan dari BPA menyatakan bahwa BPA menyebabkan abnormalitas jumlah kromosom, sebuah kondisi yang disebut aneuploidy, menyebabkan retardasi mental. BPA pun merupakan estrogen dari lingkungan yang dapat menghambat pertumbuhan seksual laki-laki maupun perempuan.

Kalau kembali pada kisah mi rebus plastik, rasanya bingung juga menjawab bagaimana agar mereka mengerti bahaya dari plastik yang direbus. Itu baru satu dari ulah lain terhadap plastik, seperti membuat lontong dengan bungkusan plastik hingga membakar plastik sembarangan. Salah siapa bila kalangan yang berpendidikan rendah tidak mengerti apa-apa soal plastik? Lebih salah lagi bila kalangan yang berpendidikan pun tidak tahu, bahkan pura-pura tidak tahu. Kenyataannya, banyak.

Bila sudah begini, setiap orang perlu menjadi teladan bagi yang lain. Pemerintah dan LSM pun harus mengampanyekan bahaya ‘makan plastik’. Dalam konteks kali ini, kearifan lokal sulit diandalkan lagi karena tidak semua masyarakat awam mengetahui bahwa plastik perlu diwaspadai. Dan, saya sendiri pun lain kali perlu memberanikan diri untuk bicara, “Ibu, sini saya masakin mi rebusnya.”

Referensi:
(1) http://www.poliquingroup.com/ArticlesMultimedia/Articles/Article/722/WARNING_The_Dangers_Of_Plastics_and_BPAs.aspx dikutip pada 19 September 2014 pukul 12.44 WIB.
(2) Cunningham, William P dan Cunningham, Mary Ann. (2008). Environmental Science: A Global Concern, tenth edition. McGraw-Hill Companies,Inc.

Less (resource and trash) is more (happiness)

Oleh Cindy Rianti Priadi

Bagi umat Muslim, bulan puasa yang baru saja lewat (seharusnya) mengajarkan untuk menahan diri dan hidup sederhana. Namun, bagi warga Ibukota, silahkan main ke Pasar Tanah Abang ataupun Thamrin City dan semua pasti setuju bahwa kekhusyukan telah tergantikan dengan suasana konsumtif yang jauh dari nilai-nilai Ramadhan. Kita semua senang mengonsumsi. Terutama, sejak banjirnya pasar-pasar dan toko-toko kita dengan barang murah “gila”, meskipun berkualitas rendah. Tidak apa-apa, karena kita bisa beli dengan mudah lalu jika rusak tinggal beli lagi yang baru dan membuang yang lama. Berbagai kesempatan, seperti Midnight sale yang digelar serentak di 15 mal pada Festival Jakarta Great Sale 2014 (1), misalnya, memberi kesempatan membeli dalam waktu yang sangat singkat juga seringkali membuat kita mengonsumsi secara impulsif tanpa berpikir panjang.

Dalam dunia dengan bahasa universal dalam bentuk uang, konon kebahagiaan bisa dibeli. Hal ini menjustifikasi tingkat konsumsi yang lebih tinggi. Namun apakah betul, uang yang sudah didapatkan dari jerih payah akhirnya bisa membuat kita lebih bahagia? Bisakah kita puas dengan lebih sedikit mengonsumsi dan membuang sampah? Can we do more with less?

Lebaran bersinonim dengan pemenuhan kebutuhan primer kita. Pangan. Selama bulan Ramadhan, penjualan produk makanan manis naik 100-150% (2). Sunnah Nabi yang menganjurkan berbuka dengan yang manis sukses dimanfaatkan produsen dan pedagang kaki lima untuk menjual segala macam rupa makanan bergula. Kolak, es kelapa, kue basah, biskuit, sirup dan tentunya tidak lupa, kurma. Semua pasti menghiasi rumah orang-orang yang berbuka. Sesaat kita lupa bahwa satu mangkuk kolak pisang pada saat berbuka, serta 1 mangkuk lagi pada saat sahur ditambah dengan satu mangkuk biji salak ternyata sudah cukup untuk kebutuhan rata-rata 2.000 kilokalori sehari (3), meskipun mungkin tidak memenuhi kebutuhan zat gizi lainnya.  Kebiasaan makan ini tentunya diiringi dengan peningkatan penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes dan kanker yang semuanya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, salah satunya makanan. Kesehatan adalah segalanya karena termasuk akar kebahagiaan. Belajar dari kasus ini, lebih banyak uang tidak selalu bisa membuat kita lebih bahagia.

Belum lagi makanan yang terbeli namun dibuang. Mulai dari sisa sayur dan buah yang tidak bisa dimakan, hingga makan malam yang tidak habis karena lapar mata ketika membeli atau makanan yang kadaluarsa sebelum sempat disentuh. Semua ini akhirnya memenuhi tempat sampah kita yang akhirnya menyesakkan gerobak sampah Dinas Kebersihan dan melongsorkan tempat pembuangan akhir Bantargebang, Cipayung dan tempat pembuangan akhir (TPA) lainnya.

Selain makanan, bagaimana dengan penemuhan kebutuhan primer lainnya: sandang? Baju baru, alhamdulillah, untuk dipakai di hari raya. Penjualan pakaian naik tiga kali lipat (4).  Namun, seberapa sering kita semua, terutama kaum perempuan, berdiri di depan lemari dengan baju menumpuk berantakan namun tidak tahu mau memakai apa? Kalau memang tidak perlu, kenapa baju dibeli? Berapa banyak waktu terbuang untuk membeli dan membereskannya? Aturan 20-80 berlaku uga untuk isi lemari, 20 persen baju dipakai selama 80 persen waktu. Akhirnya, secara rutin rak-rak dikosongkan dan baju tersebut disumbangkan setelah hanya sesekali  dikenakan. Kembali menambah sampah yang terbuang.

Mungkin dari ketiga kebutuhan primer, hanya papan lah yang bisa mengikuti konsep “less is more”. Rumah minimalis menjadi pilihan banyak calon pembeli. Kaca sering digunakan sebagai facade utama pengganti tembok untuk meningkatkan cahaya matahari yang masuk sehingga rumah menjadi terang dan terkesan luas. Padahal, kaca tersebut tidak hanya membiarkan cahaya matahari masuk, namun dia mencegah panasnya untuk keluar sehingga suhu dalam ruangan meningkat, fenomena yang dinamakan efek rumah kaca. Peningkatan suhu dalam ruangan ini akhirnya dikompensasi dengan pendingin berkapasitas tinggi. Tentunya, untuk setiap pendingin yang dinyalakan, ada pembangkit listrik yang sedang membuang karbon dioksida ke udara. Rumah minimalis, energi maksimalis.

Pangan. Sandang. Papan. Buang. Buang. Buang.

Ketika semua menjadi lebih mudah dan murah maka kita semua cenderung membeli. Dari yang memang benar perlu dan dibutuhkan hingga yang teronggok di gudang dan akhirnya dibuang.

Kalau memang akan berakhir sebagai jarum tak berharga di tumpukan jerami sampah di TPA, apakah tidak sebaiknya kita mengurangi dari awal? Kalau memang benar hidup untuk menjadi produktif, lalu mengapa harus konsumtif untuk menyenangkan diri? Can we do more with less?

Rujukan:

(1) http://potensi-indonesia.com/?p=6780 dikutip pada 18 September 2014 pukul 20.09 WIB.

(2) http://bisnis.liputan6.com/read/2075163/puasa-penjualan-sirup-sampai-biskuit-melonjak-150 dikutip pada 18 September 2014 pukul 19.46 WIB.

(3) http://majalah.tempo.co/konten/2014/07/21/ANG/145881/Waspada-Kalori-Kolak-dan-Teman-teman/21/43 dikutip pada 18 September 2014 pukul 18.56 WIB.

(4) http://www.tempo.co/read/news/2014/07/21/090594496/Ramadan-Penjualan-Pakaian-Naik-Tiga-Kali-Lipat  dikutip pada 18 September pukul 19.08 WIB.


#ProtectParadise, Selamatkan Hutan Indonesia!

Bagi kita, manusia-manusia yang hidup di perkotaan, hutan akan terasa jauh sekali, baik dari segi jarak maupun rasa keterikatan. Tentu saja di Kota kita jarang menemukan hutan kecuali hutan kota, kehadiran taman kota pun sudah berganti dengan jalan-jalan ataupun infrastruktur kota lainnya (kecuali di kota-kota yang sedang menggalakkan program aktivasi taman). Oleh karena itu, apa yang terjadi di hutan tidak kita pedulikan, karena hal tersebut tidak terjadi di depan mata kita, tentu banyak yang lebih memperhatikan kasus-kasus anak jalanan, kriminal di jalanan karena hal tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal hutan menopang kehidupan kita secara tidak langsung, jika kita melihat ke sekeliling kita, sebagian besar barang yang kita gunakan itu berasal dari hutan. Mulai dari kertas-kertas yang kita gunakan,

Read more

Infografis - Permasalahan Sampah Di Kota Jakarta
Cek info sampah JAKARTA, harapan, & solusinya di www.waste4change.com. Follow @waste4change & @HouseIGs si pembuat infografisnya. 

Infografis - Permasalahan Sampah Di Kota Jakarta

The 3rd StudentsxCEOs Summit - 1 Maret 2014

The 3rd StudentsxCEOs Summit

Komunitas StudentsxCEOs mempersembahkan: The 3rd StudentsxCEOs Summit: "Energizing youth readiness to be business leader in 2030”

Acara :  CEO Talk, Skill Up Workshop, Networking Session, Elevator Pitch

Tempat : Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia

Waktu : 1 Maret 2014

Peserta : 100 mahasiswa dan 50 professional (hasil seleksi), serta 50 komunitas-komunitas seIndonesia

Pembicara : para CEO atau pemimpin bisnis serta para professional terkemuka se-Indonesia

Tanggal Registrasi :

 a) CEO Talk, Skill Up Workshop, Networking Session : 6 Jan -7 feb 2014

 b) Elevator Pitch : 15 Jan - 15 Feb 2014

FREE registrasi, limited to 150 seats.

Link Pendaftaran : bit.ly/SxCSummitReg

More info : @SxCsummit atau @StudentsxCEOs

www.studentsxceos.com

CP : Fikri (089613228828)

Detail acara :

  1. 1.     CEO Talks

Acara utama ini bertujuan untuk memberikan pembelajaran dan ilmu kepada partisipan melalui penyampaian pengalaman dan pandangan para praktisi dan CEO terpercaya.

  • CEO Talk 1: “Fast forwarding to 2030 : Exploring Indonesia’s Business Opportunities”

Pada sesi yang kedua, peserta akan dibagi berdasarkan empat topik yang berkaitan dengan industri-industri bisnis di empat ruangan yang berbeda.

  • CEO TALK 2 : “Cracking Indonesia’s Leading Industries”

 Pilihan industrinya:

  1. “Creative Industry : The Great Minds in Creative Business”  for 75 participants
  2. “Media : Journalism in the Business World”  for 45 participants
  3. “Technology : A Race to the Top with Technnology” for 50 participants
  4. “Banking and Finance : How Banks are Carrying Out their Roles”  for 30 participants
  1. 2.     Workshop

Dengan mengusung tema “Skill Up”, workshop ini akan membantu kalian untuk menyiapkan diri menjadi menjadi business leaders. Empat kategori yang bisa dipilih adalah :

  1. 1.      Leverage your Marketing Skills”
  2. 2.      “Spot Business Opportunities through Problem Solving and Creative Thinking”
  3. 3.      “Starting Up : Investment and Financial Planning”
  4. 4.      “Perfecting your Pitch”
  1. 3.     Networking Session

  1. 1.      “Private Conversation” : Hanya akan ada 1 peserta yang dipilih untuk bertemu secara ekslusif dengan setiap CEOnya.
  2. 2.     “Speed Date” : Sesi networking session yang akan dilakukan antar peserta.
  1. 4.     Elevator Pitch

 

Peserta akan melakukan presentasi dengan waktu yang singkat dan Team The 3rd SXC Summit akan mengundang venture capitalist untuk menghadiri elevator pitch sehingga para start up yang idenya bisa tersampaikan dengan baik, bisa saja didanai oleh venture capitalist.

MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEARLet’s make a better world through our #GreenAttitudes , thoughts & behaviors

MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEAR
Let’s make a better world through our #GreenAttitudes , thoughts & behaviors

Preview Premier Edensor Laskar Pelangi Sikuel 2

Greeneration Indonesia mendapat kesempatan untuk menonton perdana film ini bersama berbagai perwakilan lembaga lingkungan di kota Bandung, seperti Bandung Kolaborator, Bandung Juara Bebas Sampah, Zero Waste Bandung, dan lainnya.

Laskar pelangi 2 Edensor ini menceritakan tentang perjalanan dua orang anak Belitung Ikal dan Arai. Mereka berhasil memperoleh beasiswa untuk kuliah di Sorbone, Paris Prancis. Ikal dan Arai meraih mimpinya menjalani hari-hari menimba ilmu di Sorbone. Ditengah kuliahnya Ikal dan Arai bekerja keras apa saja menjadi pelayan hingga mengamen di jalanan, agar bisa mengirimi uang untuk orang tua mereka di Belitung. Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian Belitung tentang Timah yang makin melorot dan lahan Belitung yang tidak bisa ditanami, menberikan dampak terhadap keuangan orang tua mereka. 

image

Di Sorbone sendiri, Ikal sempat mengalami kemelut dalam dirinya yang mengakibatkan hubungannya dengan Arai renggang. Hal tersebut terjadi karena Ikal sempat menjalin hubungan dengan mahasiswi asal Jerman Kathia yang sempat membuat nilainya jatuh dan mulai melupakan akan mimpi awalnya bersama Arai, serta kabar permintaan dari oangtuanya untuk pulang membantu mengatasi permasalahan perekonomian keluarganya semakin menambah permasalahan dalam diri Ikal.

Dalam film ini, kita dapat mengambil berbagai macam pelajaran hidup, baik tentang persahabatan, bakti kepada orang tua dan tanah kelahiran, percintaan, juga semangat untuk meraih mimpi. “Saya saja yang berasal dari Kampung Gantong (kampung yang berada dipelosok Belitung, dengan transportasi yang sulit dan teknologi masih tradisional) bisa meraih mimpi, apa lagi teman-teman (yang ditinggal di suatu daerah yang jauh lebih baik dari Gentong) semua pasti bisa lebih baik dari saya”, ujar Andrea Hirata pada saat memberi sambutan pada pengunjung Premier Edensor di Blitz Megaplex Paris Van Java, Bandung, Senin 23 Desember 2013.

image

Pada Premier Edenson ini, penonton yang hadir adalah dari berbagai kalangan, baik media, pelajar, komunitas, maupun karyawan swasta. Penonton yang hadir berkesempatan berfoto, dan berinteraksi langsung dengan sang penulis novel, pemeran Alin, dan juga pengisi sountrack dari film tersebut. Tidak hanya itu kegiatan inipun dihadiri oleh personil Project-P dan para pengunjung mendapatkan kenang-kenangan berupa CD soundtrack film Laskar Pelangi 2.

Setelah menonton film ini, kami merasa terinspirasi akan mimpi-mimpi yang sedang dirancang dan akan segera diraih. Semoga penayangan film ini dapat memberikan banyak manfaat tidak hanya untuk Kami, tapi juga masyarakat umumnya terutama dalam hal meraih mimpi.

Namun demikian, diharapkan masyarakat juga dapat sadar bahwa meraih mimpi yang indah tidak hanya harus jauh-jauh ke luar negri. Kita harus percaya bahwa mimpi dapat diperoleh dimana saja, termasuk disini, di tanah yang Kita pijak. Mimpi setiap orang berbeda, begitupun cara memperolehnya, gambaran akan semangat Arai dan Ikal, kerja keras serta kesungguhan, juga doa dari orang tualah yang bisa kita jadikan inspirasi untuk meraih cita-cita kita masing-masing. Maka, kerjarlah mimpimu dan buat itu menjadi kenyataan seperti sang penulis, Andrea Hirata.

Salam lestari,

Kontributor kegiatan Div. Program - Greeneration Indonesia

Banon Pramesty

Dwi Widya Mutiara

Sani Firmansyah

 image

Call for Discussion! Diskusi Terbatas: "Pengelolaan Lingkungan di Pulau Kecil Destinasi Wisata"

Dengan hormat rekan, sahabat, mitra GI,

Kami, Tunas Nusa Foundation dan Greeneration Indonesia menginformasikan bahwa kami akan menyelenggarakan diskusi open space dengan Tema “Pengelolaan Lingkungan di Pulau Kecil Destinasi Wisata”. 

Read more
#

“Masuk RT Tidung“ merupakan singkatan dari “Manajemen Sampah untuk Kawasan Rumah Tangga Tidung”. 

Read more

Organic, Green & Healthy Expo 3-6 Oktober 2013

image

Ada lebih dari 50 acara bermanfaat dan +160 Exhibitor, Food Counter,

Read more